Permisi pak pejabat....!

Sebuah negeri menghampar memanjang di salah satu sisi bumi, Lautnya adalah kekayaan dengan ikan aneka warna dan terumbu karang, Langitnya adalah hamparan biru memantul-mantul pancarkan cahaya sang surya dengan teramat murah hati.
 
Hutannya adalah deret pinus berdiri tegak menyapa langit dengan sahabat pepohonan lainnya yang mencipta harmoni dengan tiap gugur daun yang menyalami tanah.
Tanahnya adalah susunan sempurna yang menumbuhkan, menjaga, mempersilakan setiap pijakan berdiri kokoh di atasnya

Sebuah daerah  itu, kini ada di genggamanmu Pak!

Tapi, cobalah tengok manusianya...

Ada sekelompok anak tidur dengan perut membusung menahan perut menjerit meminta haknya

Di sudut lain orang tuanya sibuk memunguti tiap butir beras yang berjatuhan, yang bersisa di tanah

Atau sedang mengantri beberapa ribu rupiah dengan menaruhkan nyawa, terhimpit, terinjak diantara senyum sumringah bangga sang penyumbangnya

Seorang nenek didakwa karena tak tau lagi apa artinya keadilan

Sekelompok lelaki dibui sebab telah lupa untuk apa dicipta hukum dan undang-undang

Seorang ibu terpisah dari anaknya hanya karena curhat pada rekan di seberang

Rakyat kecil menangis nyeri, saksikan lapaknya dibongkar paksa seolah tak ada lagi nurani

Sementara tiap malam, ribuan manusia menetes air mata, sebab selalu menyimpan tanya,?

Apa lagi yang bisa membuatnya bertahan hidup, esoknya?

    permisi pak pejabat ...!

Maaf jika ternyata kau memang hanyalah pemimpin-pemimpin di akhir jaman

Bukan seperti beliau yang memimpin umat terbaik, namun tidur di bilik kecil, menempel di masjidnya

Menambal bajunya, dan menyiapkan tepungnya dengan tangannya

Sementara kau, pagar istanamu semakin tinggi saja!

Kau juga bukan beliau yang tiap malamnya berjalan kaki mengintip hidup orang yang dipimpinnya

Sebab bahkan telah kau punya kendaraan  pribadi mewah untuk melanglang buana ke mana kau ingin

Kau juga bukan beliau yang menyiapkan minyak untuk sang papa yang menanti kelahiran anaknya

Sebab tentunya hidanganmu adalah yang kualitet nomor pertama

Kau tentunya bukan beliau yang memadamkan lampu untuk anaknya, karena lentera itu adalah milik rakyat

Sebab makin banyak saja orang-orang yang dengan santai menilap bertrilyun banyaknya!

    permisi pak pejabat ...!

Kau memang adalah pemimpin-pemimpin di akhir jaman

Tapi tak akan berubah takdir bahwa akan datang hari dimana harus kau bertanggung jawab atas banyak hal yang terjadi di negeri ini

Tentang lautnya, masihkan sebiru langitnya?

Tentang hutannya, masihkan hijau dari cakrawala?

Tentang tanahnya, masihkah gembur menumbuhkan?

Dan tentang manusia yang berjalan di atasnya,

Adakah mereka telah menganggapmu bersikap adil, ataukah lebih sering merasa sempit dan pilu di hati?

    permisi pak pejabat... !

Tetap kuharap, kantung yang menggantung di matamu adalah karena cemasmu pada rakyat Juga cemasmu untuk dirimu

Sanggupkah kau lewati hari

Saat ditanyakan segalanya padamu

Bukan lagi di tempat dimana kebenaran adalah sejumlah rupiah yang dapat dibayarkan

Sebab tak dapat dibeli kejujuran tangan dan kaki yang kelak akan berkata

Telah kau buat apa untuk negeri kita!

   permisi pak pejabat ..." hanya sebuah catatan kecil, semoga anda tergugah melalui tinta ini.

1 komentar:

  1. Ijin ya bang, artikelnya saya Copas...
    Menarik banget tuk di Publish nie. . . .
    Kali aj, ada pejabat yg mampir dan membaca tulisan hasil karya abang...
    Makasih sebelumnya . . . DANKE!!

    BalasHapus

koment :